Rabu, 18 Desember 2013

Selera Kampung Tampilan Modern Rasa Joss Gandos




Siapa sih yang gak tahu dengan pecel, makanan tradisional ini sangat disukai oleh semua kalangan, meskipun terkesan makanan kampung pecel ini bisa dibuat dengan tampilan yang lebih modern.

Seperti yang dilakukan oleh istri saya sendiri, sebenarnya idenya sederhana bagaimana membuat sambal pecel yang biasanya ditoko-toko tampilannya kurang menarik, ini saya akan mencoba merubah tampilan sambal pecel ini terkesan modern dan atraktif.

Dalam desain produk secara teoritis saya menggunakan brand image yang sudah dikenal oleh masyarakat dengan kata-kata JOSS GANDOS artinya mantap betul, dan bahasa ini sudah dikenal oleh masyarakat di sekitar saya secara umum, kemudian tampilanya dalam desain saya buat warna yang sangat cerah biar kelihatan jreng dan menarik perhatian, dalam mencari konsep yang demikian saya banyak belajar dari pelatihan-pelatihan yang pernah saya dapatkan. Sekarang tinggal mempraktekkannya untuk menambah penghasilan tambahan disamping bertani.

Jaman memang sudah berubah, bagaimana kita harus menyesuaikan diri untuk tetap bertahan dalam
menghadapi persaingan global, dalam kajian produk sambel pecel yang diolah orang pedesaan seperti saya kalau tidak diubah pemikirannya maka akan tergerus terjangan perusahaan besar yang terus mengkikis pundi pundi pedesaan, memang produk pedesaan tampilan terkesan udik tapi rasa ya gk jauh beda, yang membedakan cuman tampilan saja menurut pandangan saya.

memang selera konsumen sekarang sudah berubah dengan melihat tampilan produk yang menarik dan atraktif akan menjadi pilihannya untuk membeli, kemudian strategi yang selanjutnya adalah bagaimana konsumen tetap membeli dan membeli lagi itu teori dalam marketing harus didukung dengan rasa yang tetap sama dan keistimewaan itu akan dipegang terus oleh konsumen.

akankah model model seperti ini bisa diterapkan dalam produk pertanian yang lain tentunya ini merupakan salah satu tantangan bagi petani dan pengusaha dipedesaan untuk lebih giat lagi mengingkatkan kualitas produknya disertai ilmu marketing yang bagus.








Kamis, 12 Desember 2013

Kebo Nyusu (Gudel yang jadi Gajah nya petani asean)

Kebo nyusu gudel bisa diartikan dalam bahasa Indonesia adalah Kerbau yang menyusu pada anaknya kerbau (Gudel) peribahasa yang mengartikan bahwa seorang guru yang belajar kepada muridnya, menjadi yang aneh bukan, tapi itu sah sah saja kenapa kita harus malu dan gengsi kepada orang yang lebih pintar meskipun mereka itu dulu juga belajar di kita. Kemudian saya tidak mau berkutat dengan perdebatan antara suka dan tidak suka antara peribahasa itu intinya kenapa tidak kita mengakui bahwa kita lebih kurang cerdas untuk belajar kepada orang yang lebih genius dan telaten untuk menjadi besar. red

Pada bulan Juli 2013 lalu Alhamdulillah saya mendapat kesempatan belajar tentang koperasi tani di negeri Thailand yang diselenggarakan oleh ASEAN dengang sponsor MAFF (Japan Ministry of agriculture fisheries and forestry) selama 2 minggu saya juga tidak menyangka akan bisa ke negeri gajah itu yang terkenal produk pertaniannya di Indonesia, lawong saya ini orang kampung mengenal koperasi ya itu koperasi bank plecit dan KUD yang sudah gulung tikar.

Thailand memang jago membuat brand image super dengan produk pertaniannya, siapa yang gak kenal ayam bangkok, jambu bangkok, beras thailand, ketan thailand, kenapa kok gak ada ya ayam blitar, ayam borneo, yang mempunyai ciri kas Indonesia, bahkan produk pertanian kita di anggap remeh dengan produk luar negeri oleh kita sendiri, seperti halnya klengkeng itoh, jeruk mandarin, bahkan sekarang lagi ngetren juga sabun beras thailand, bahkan ada juga produk kecantikan mengandalkan sari beras jepang untuk merawat kulit.

Kalau saya pikir sih itu merupakan bahasa marketing yang tidak susah untuk dilakukan dalam produk pertanian strategi dalam membuat image semua produk yang dikeluarkan sebuah perusahaan adalah sama yaitu produk harus berbeda dengan yang lain, jadi kalau mau mengeluarkan produk itu dulu yang harus kita tampilkan misal tampilannya keren, barangnya bagus, lebih besar seperti halnya persaingan antara Cocacola dan Big Cola, Coca-Cola yang tidak pernah tergeser oleh minuman apapun di Indonesia sekarang mendapat saingan berat dari BIG Cola, yang mengedepankan brand lebih besar dan lebih murah dengan rasa yang sama, sekarang anak kecil pada suka sama yang BIG big itu.


Dalam produk pertanian salah satu cara untuk marketing adalah dengan cara yang sama thailand sangat tahu akan potensi Indonesia misalnya kelengkeng, kelengkeng kita yang kecil dan berbiji besar sekarang sudah tinggal kenangan hancur akibat serangan kelengkeng import yang mempunyai daging tebal rasa manis dan pakaging yang menarik, belum lagi dengan jeruk indonesia yang digulung habis oleh jeruk mandarin yang tampilannya sangat bagus kuning menggoda dan kelihatannya enak, sedangkan jeruk kita tampilannya lusuh dijajakan tanpa grading dan rasanya masam, sadar atau tidak Petani luar negeri sudah mengandalkan ilmu agrobisnis sebagai industri, sedangkan kita kira kira gimana ya gak jelas deh?






Selasa, 10 Desember 2013

Antara Pacul, Pips dolar harian dan impian sukses




Sebagai petani saya hanya berpikir kenapa pacul saya tidak bisa mengeluarkan dolar, pikiran saya pekerjaan sebagai petani memang kadang sibuk kadang tidak alangkah baiknya saya bisa menyempatkan diri untuk mendapatkan penghasilan tambahan, untuk menyokong usaha tani saya yang masih kembang kempis. dimana ketidak pastian akan penghasilan dari usaha tani menjadi hantu disiang bolong bagi pegawai bank, pegawai bank sangat menjauhi usaha yang tidak pasti untuk mencairkan kreditnya.

Usaha tani yang penuh ketidak pastian penghasilan, ketidak pastian akan panen karena banyak faktor yang mempengaruhinya diantaranya serangan hama penyakit yang sulit dikendalikan kemudian ancaman perubahan iklim juga menghancurkan sistem pola tanam petani dimana biasanya terjadi waktu musim hujan sudah datang ternyata hujannya tak kunjung datang dan begitu juga sebaliknya.

Konotasi petani yang lusuh, kotor, pinggiran, melarat, ndeso, perlu sekali saya lemparkan ke tong sampah, saya hanya berhayal petani kita menggunakan laptop untuk menghitung business plan padinya, membuka website untuk memasarkan produknya, menerapkan teknologi terbaru dari internet, kemudian bermain forex di waktu kosong untuk meningkatkan penghasilannya, tampilan ndeso "kanthong kutho" (sakunya orang kota) hahahahahah ketawa juga akhirnya?


Kemudian pacul sebagai alat produksi yang digunakan untuk mengolah tanah sudah sepatutnya dirubah menjadi mekanisasi pertanian untuk mengurangi biaya tenaga kerja, lahan yang sejengkal alias semput juga menjadi tantangan untuk mengubah pola pikir pertanian hanya tanam padi dan jagung, sudah waktunya integrated farm sistem, bisa kah lahan rata rata yang dimiliki petani hanya 0,25/ha itu untuk memenuhi biaya makan setahun menyekolahkan anak-anak nya hingga menjadi sarjana, percayakah Anda bahwa lahan segitu bisa mencukupi kebutuhan hidup petani?


semangat hidup menjadi Petani Global


5 desember 2013 merupakan hari yang bersejarah, 39 tahun sudah umur saya, semangat hidup dalam perjuangan untuk melangkah kehidupan lebih baik tetap menjadi impian saya, dari tanggal 3 - 5 desember 2013 mendapatakan materi dari kementerian pertanian dengan mengikuti kegiatan Apresiasi Pengembangan Kewirausahaan Agribisnis bagi alumni magang pertanian jepang (IKAMAJA).

dalam kesempatan itu saya banyak berpikir dengan materi yang disampaikan oleh nara sumber Ibu Dhinny Anjung Sari salah satu profesional tutor yang berpengalaman untuk membangkitkan wirausaha baru, materi yang disampaikan adalah tentang bagaimana strategi meningkatkan nilai jual produk pertanian di dunia internet.

Saya mencoba untuk berpikir out of box keluar dari kebiasaan awam bagaimana produk pertanian yang biasanya dari petani hanya memproduksi hasil pertanian dan dijual begitu saja akan bisa laku di internet yang notabene pasar internet adalah pasar yang sangat besar bisakah petani menggapai tentang itu? menjadi pertanyaan yang besar di bagi saya. Ah teory pandangan saya kemudian saya mencoba untuk menggali lebih jauh dengan kebiasaan petani kita yang hanya menanam dan menjual hasil panennya ke tengkulak yang menjadi pikiran saya bisakah itu dijadikan sebagai produk yang siap dijual? di internet

ayo berpikir kawan coba di hayati dalam hati saya, kemudian saya teringat apa kata dosen saya di belanda dari HAS den Bosch Apllied Sceience bahwa usaha pertanian itu adalah sebagai industri bukan sebagai produk yang konvensional tanpa ada pembenahan dari mainstream ilmu marketing atau produk asal asalan yang tidak bisa dijajakan seperti produk industri yang lain.

Kemudian saya juga membayangkan petani setelah panen langsung menjual ke konsumen alangkah tingginya harga yang didapat petani karena langsung tanpa perantara kemudian konsumen juga sangat untung karena mendapatkan harga langsung dari produsen. Waduh ini sangat potensial untuk dikembangkan menurut saya cuman yang menjadi masalah apakah petani kita bisa komputer, apakah petani kita bisa buat website, apakah petani kita bisa mengelola pasca panen, apakah ada jaminan kualitas hmmmmm kok banyak sekali pertanyaannya waduh menjadi bingung nih?????

Sebagai generasi muda dalam pertanian yang terdidik saya akan mencoba menerapkan ini kepada kelompok tani atau seorang petani beneranlah semua pasti bisa kemudian saya juga mempunyai ide bagaimana sang PETANI itu bisa jualan produknya misalkan beras ketan yang rata rata import dari negeri gajah itu, apa yang diperlukan ya kira kira yang jelas butuh komitmen dari petani sendiri untuk keluar dari kebiasaan yang ada, Kemudian memperbaiki brand image dari produk petani itu sendiri agar siap dijual ke konsumen di internet yang rata rata orang yang terdidik dan paham akan tingkat kualitas.