praktek keilmuan pertanian dari pengalaman penulis untuk mendapatkan perubahan ekonomi masyarakat pedesaan, berkarya untuk bangsa dan negara
Selasa, 10 Desember 2013
semangat hidup menjadi Petani Global
5 desember 2013 merupakan hari yang bersejarah, 39 tahun sudah umur saya, semangat hidup dalam perjuangan untuk melangkah kehidupan lebih baik tetap menjadi impian saya, dari tanggal 3 - 5 desember 2013 mendapatakan materi dari kementerian pertanian dengan mengikuti kegiatan Apresiasi Pengembangan Kewirausahaan Agribisnis bagi alumni magang pertanian jepang (IKAMAJA).
dalam kesempatan itu saya banyak berpikir dengan materi yang disampaikan oleh nara sumber Ibu Dhinny Anjung Sari salah satu profesional tutor yang berpengalaman untuk membangkitkan wirausaha baru, materi yang disampaikan adalah tentang bagaimana strategi meningkatkan nilai jual produk pertanian di dunia internet.
Saya mencoba untuk berpikir out of box keluar dari kebiasaan awam bagaimana produk pertanian yang biasanya dari petani hanya memproduksi hasil pertanian dan dijual begitu saja akan bisa laku di internet yang notabene pasar internet adalah pasar yang sangat besar bisakah petani menggapai tentang itu? menjadi pertanyaan yang besar di bagi saya. Ah teory pandangan saya kemudian saya mencoba untuk menggali lebih jauh dengan kebiasaan petani kita yang hanya menanam dan menjual hasil panennya ke tengkulak yang menjadi pikiran saya bisakah itu dijadikan sebagai produk yang siap dijual? di internet
ayo berpikir kawan coba di hayati dalam hati saya, kemudian saya teringat apa kata dosen saya di belanda dari HAS den Bosch Apllied Sceience bahwa usaha pertanian itu adalah sebagai industri bukan sebagai produk yang konvensional tanpa ada pembenahan dari mainstream ilmu marketing atau produk asal asalan yang tidak bisa dijajakan seperti produk industri yang lain.
Kemudian saya juga membayangkan petani setelah panen langsung menjual ke konsumen alangkah tingginya harga yang didapat petani karena langsung tanpa perantara kemudian konsumen juga sangat untung karena mendapatkan harga langsung dari produsen. Waduh ini sangat potensial untuk dikembangkan menurut saya cuman yang menjadi masalah apakah petani kita bisa komputer, apakah petani kita bisa buat website, apakah petani kita bisa mengelola pasca panen, apakah ada jaminan kualitas hmmmmm kok banyak sekali pertanyaannya waduh menjadi bingung nih?????
Sebagai generasi muda dalam pertanian yang terdidik saya akan mencoba menerapkan ini kepada kelompok tani atau seorang petani beneranlah semua pasti bisa kemudian saya juga mempunyai ide bagaimana sang PETANI itu bisa jualan produknya misalkan beras ketan yang rata rata import dari negeri gajah itu, apa yang diperlukan ya kira kira yang jelas butuh komitmen dari petani sendiri untuk keluar dari kebiasaan yang ada, Kemudian memperbaiki brand image dari produk petani itu sendiri agar siap dijual ke konsumen di internet yang rata rata orang yang terdidik dan paham akan tingkat kualitas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


iki mantap p.bosss...
BalasHapustrima kasih / arigato gozaimasu
BalasHapusLuarbiasa sekali Mas Helmi, saya kagum dan bangga melihatnya. Cita2 dan harapan terbesar saya adalah melihat petani indonesia maju. Mereka ada roda perekonomian negara ini. Selayaknya mereka sebagai pioner dan menikmati hasil dari usaha mereka. Mind set harus dirubah dan berpikir ot of the box, memanfaat tekhnologi sebagai salah satu media promosi yg ampuh, brand image dan personal branding untuk produk dan pelaku usahanya sendiri. Semoga Mas Helmi menjadi inspirasi petani2 indonesia ....Majulah Petani Indonesia.....Majulah Indonesia
BalasHapus